Snack's 1967
Home
Mobile
Artikel
Islami
Tentang Admin
Buku Tamu
Site Map
File List
Tanggal 16 Apr 2026
Jam: 09:43:59

Total pengunjung: 1523645



Sejarah - Presiden Indonesia Yang Tidak Tertulis Dalam Sejarah Bangsa
Di tulis pada: 30 Jan 2016 - 02:01:16
Oleh : Elang
Kategori: Tokoh
Hingga saat ini bangsa Indonesia hanya mengenal tujuh presiden yang

pernah memimpin NKRI. Masyarakat

pastinya fasih ketika harus menghapal

ketujuh nama presiden, mulai dari Ir

Soekarno hingga sekarang presiden Joko

Widodo. Namun tahukah anda bahwa ternyata ada dua nama lagi yang pernah

menjabat negeri ini? Mereka luput dan

terlupakan dari sejarah, bahkan tidak banyak

yang mengenalnya.


Sejarah - Presiden Indonesia Yang Tidak Tertulis Dalam Sejarah Bangsa



Adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr.

Assaat yang pernah memimpin Indonesia pada

masa-masa genting. Sayang, usia memimpin

yang relatif singkat membuat nama kedua

tokoh ini tidak dikenal. Padahal tanpa

mereka, Indonesia bisa saja direbut kembali oleh penjajah karena kondisi pemerintahan

dalam keadaaan kosong. Siapa sebenarnya

mereka dan bagaimana perjalanan dalam

memimpin Indonesia? Berikut ulasannya.


Kisah Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat

yang terlupakan.


Sjafruddin Prawiranegara memimpin saat

Presiden Soekarno dan Mohd Hatta di

asingkan oleh Belanda pada Agresi Militer

Belanda kedua. Saat itu Belanda habis-

habisan menggempur Yogyakrta. Selain dua

tokoh nasional tersebut, Belanda juga menangkap pemimpin Indonesia lainnya untuk

di asingkan ke Pulau Bangka. Belanda

menyiarkan kabar bahwa Indonesia sudah

bubar, karena pemimpin-pemimpinnya sudah

mereka tawan.


Beruntung Sjafruddin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat sehingga terhindar dari pengasingan. Ia lantas mengusulkan untuk pembentukan pemerintahan darurat demi meneruskan pemerintahan RI. Hal ini senada dengan telegraf yang dikirmkan Ir Soekarno yang memberi kuasa kepada Sjafruddin Prawiranegara untuk memimpin pemerintahan.


Ia kemudian menggelar rapat pada 19 Desember 1948 yang bertempat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi. Rapat tersebut dihadiri oleh Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan yang langsung menyetujui pembentukan suatu Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Hal ini semata-mata dilakukan demi NKRI agar tidak mengalami kekosongan kekuasaan.


Akhirnya pada 22 Desember 1948, PDRI diproklamirkan dan Sjafruddin menjadi pemimpinnya. Ia dibantu oleh kabinetnya diantaranya T.M. Hasan, S.M. Rasjid, Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Sementara Jenderal Sudirman tetap menjadi Panglima Besar Angkatan Perang.


PDRI saat itu menjadi satu-satunya musuh Belanda. Semua tokoh-tokohnya terus bergerak mengusir penjajah. Bahkan hingga sampai harus bermalam di hutan rimba untuk menghindakan diri dari serangan. Rombongan ini kerap tidur di semak belukar di pinggiran sungai Batanghari dan kekurangan pasokan bahan makanan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat pahlawan untuk mempertahankan kemerdekaan.


Perjuangan mereka ternyata membuahkan hasil. Pada pertengahan tahun 1949, posisi Belanda semakin terjepit karena agresi besar-besaran yang diluncurkan ke Indonesia mendapat kecaman internasional. Mereka tidak pernah berkuasa penuh dan akhirnya memilih berunding dengan utusan Soekarno-Hatta yang saat itu masih berstatus tawanan.


Akhirnya perundingan menghasilkan Perjanjian Roem-Royen. Setelah perjanjian ini Sjafruddin kemudian mengembalikan pemerintahan kembali kepada Ir Soekarno pada 13 Juli 1949. Ini berarti masanya menjabat sebagai presiden selama kurang lebih delapan bulan untuk melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.


Sementara itu Mr. Assaat pernah menjadi pemimpin Indonesia saat Indonesia mengalami gejolak yang sama. Tepatnya pada tahun 1949 Ia terpilih menjadi presiden saat republik ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS merupakan negara yang dibuat oleh Belanda dan terpisah dari NKRI.


Tepatnya setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) dimana Belanda menetapkan Ir Soekarno dan Hatta menjadi presiden dan Perdana Menteri RIS. Itu berarti terjadi kekosongan kekuasaan di Republik Indonesia sendiri.


Tokoh Indonesia sudah membaca kelicikan Belanda yang akan menguasai Indonesia jika negeri ini mengalami kekosongan kekuasaan. Akhirnya dipilihlah Assaat sebagai Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Jika Ia tidak berkuasa, Belanda tentu saja akan dengan mudah untuk menguasai Indonesia.


Akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1950 RI dan RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Artinya masa jabatan Assaat sebagai presiden RI sekitar sembilan bulan. Kursi kepemimpinan kemudian dikembalikan lagi kepada Ir. Soekarno.


Perjuangan mereka tentu saja tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika tidak ada keduanya, mungkin saja kisah Indonesia tidak seperti dalam buku sejarah yang kita baca di sekolah. Sayang, nama keduanya seolah hilang dan tidak diabadikan. Meski jasanya tidak kalah hebat dengan presiden yang memiliki catatan periode lima tahun atau lebih.


*****

Terima kasih telah membaca Sejarah - Presiden Indonesia Yang Tidak Tertulis Dalam Sejarah Bangsa, Semoga bermanfaat.
Bila tulisan ini berharga buat anda, silahkan bagikan ke teman anda. Bagikan:
F T G Share via mail
2 Rate upStar
Dapatkan postingan terbaru dan ikuti:
RSS Subscribe
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk artikel "Sejarah - Presiden Indonesia Yang Tidak Tertulis Dalam Sejarah Bangsa"






Refresh Translate Ke Judul Ke Artikel Lain >