Old school Easter eggs.
Home
Mobile
Artikel
Islami
Tentang Admin
Buku Tamu
Site Map
File List
Tanggal 08 Apr 2026
Jam: 14:59:33

Total pengunjung: 1505712



Kisah 7 Malaikat Penjaga Langit
Di tulis pada: 30 Jan 2016 - 03:01:41
Oleh : Elang
Kategori: Islami
Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia

menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada

satu malaikat yang menjaga pintu

Ibn Mubarak mengatakan bahwa Khalid bin Ma’dan

berkata kepada sahabat Mu’adz bin Jabal RA, “Ceritakanlah satu hadits yang kau dengar dari

Rasulullah SAW, yang kau menghafalnya dan

setiap hari kau mengingatnya lantaran saking

keras, halus, dan dalamnya makna hadits tersebut.

Hadits manakah yang menurut pendapatmu paling

penting ?” Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan.” Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama

sekali, lalu ia bertutur, “hmm, sungguh kangennya

hati ini kepada Rasulullah SAW, ingin rasanya

segera bersua dengan beliau..” Ia melanjutkan,

“Suatu saat aku menghadap Rasulullah SAW.

Beliau menunggangi seekor unta dan menyuruhku naik dibelakangnya, maka berangkatlah kami dengan

unta tersebut. Kemudian beliau menengadahkan

wajahnya ke langit, dan berdoa, “Puji syukur

kehadirat Allah, Yang Maha Berkehendak kepada

makhluq-Nya menurut kehendak-Nya.” Kemudian beliau SAW berkata, “sekarang aku akan

mengisahkan satu cerita kepadamu yang apabila

engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau

engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai

hujjah kelak di hadapan Allah SWT. AMAL YANG TERTOLAK “Hai, Mu’adz! Allah menciptakan tujuh malaikat

sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Pada

setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu,

dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh malaikat

penjaga pintu sesuai kadar pintu dan

keagungannya. Maka, Malaikat hafazhah (malaikat yang memelihara dan mencatat amal seseorang)

naik ke langit dengan membawa amal seseorang

yang cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya

matahari. Ia, yang menganggap amal orang tersebut

banyak, memuji amal-amal orang itu. Tapi, sampai

di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepada malaikat hafazhah,

“Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku

ini penjaga tukang pengumpat, aku diperintahkan

untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat

orang lain. Jangan sampai amal ini melewatiku

untuk mencapai langit berikutnya.” Keesokan harinya, ada lagi malaikat hafazhah yang

naik ke langit dengan membawa amal shalih seorang

lainnya yang cahayanya berkilauan. Ia juga

memujinya lantaran begitu banyaknya amal

tersebut. Namun malaikat di langit kedua

mengatakan, “berhentilah, dan tamparkan amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu dia

mengharap keduniaan. Allah memerintahkanku untuk

menahan amal seperti ini, jangan sampai lewat

hingga hari berikutnya.” Maka seluruh malaikat pun

melaknat orang tersebut sampai sore hari. Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke

langit dengan membawa amal hamba Allah yang

sangat memuaskan, dipenuhi amal sedekah, puasa,

dan bermacam-macam kebaikan yang oleh malaikat

hafazhah dianggap demikian banyak dan terpuji.

Namun saat sampai di langit ketiga berkata malaikat penjaga pintu langit yang ketiga,

“Tamparkanlan amal ini ke wajah pemiliknya, aku

malaikat penjaga orang yang sombong. Allah

memerintahkanku untuk tidak menerima orang

sombong masuk. Jangan sampai amal ini melewatiku

untuk mencapai langit berikutnya. Salahnya sendiri ia menyombongkan dirinya di tengah-tengah orang

lain". Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke

langit keempat, membawa amal seseorang yang

bersinar bagaikan bintang yang paling besar,

suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa,

shalat, naik haji, dan umrah. Tapi, ketika sampai di

langit keempat, malaikat penjaga pintu langit keempat mengatakan kepada malaikat hafazhah,

“berhentilah, jangan dilanjutkan. Tamparkanlah

amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga orang

-orang yang suka ujub (membanggakan diri). Aku

diperintahkan untuk tidak menerima masuk amal

tukang ujub. Jangan sampai amal itu melewatiku untuk mencapai langit yang berikutnya, sebab ia

kalau beramal selalu ujub. Kemudian naik lagi

malaikat hafazhah ke langit kelima, membawa amal

hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita

diiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus,

seperti amal jihad, ibadah haji, ibadah umrah. Cahaya amal itu bagaikan matahari. Namun, begitu

sampai di langit kelima, berkata malaikat penjaga

pintu langit kelima, “Aku ini penjaga sifat hasud

(dengki, iri hati). Pemilik amal ini, yang amalnya

sedemikian bagus, suka hasud kepada orang lain

atas kenikmatan yang Allah berikan kepadanya. Sungguh ia benci kepada apa yang diridhai Allah

SWT. Saya diperintahkan agar tidak membiarkan

amal orang seperti ini untuk melewati pintuku

menuju pintu selanjutnya..” Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik dengan

membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna,

shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Tapi

saat ia sampai di langit keenam, malaikat penjaga

pintu ini mengatakan, “Aku ini malaikat penjaga

rahmat. Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah ke wajah pemiliknya. Salah sendiri ia

tidak pernah mengasihi orang. Apabila ada orang

lain yang mendapat musibah, ia merasa senang. Aku

diperintahkan agar amal seperti ini tidak

melewatiku hingga dapat sampai pada pintu

berikutnya.” Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik ke langit

ketujuh dengan membawa amal seorang hamba

berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat,

jihad, dan kewara’a. Suaranya pun bergemuruh

bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan malaikat.

Namun tatkala sampai di langit yang ketujuh, malaikat penjaga langit ketujuh mengatakan, “Aku

ini penjaga sum’at (ingin terkenal / Riya).

Sesungguhnya orang ini ingin dikenal dalam

kumpulan, kumpulan, selalu ingin terlihat lebih

unggul disaat berkumpul, dan ingin mendapatkan

pengaruh dari para pemimpin.. Allah memerintahkanku agar amalnya itu tidak sampai

melewatiku. Setiap amal yang tidak bersih karena

Allah, itulah yang disebut Riya. Allah tak akan

menerima amal orang-orang yang riya.” Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik

membawa amal seorang hamba : shalat, zakat,

puasa, haji, umrah, akhlak yang baik, pendiam, tidak

banyak bicara, dzikir kepada Allah. Amalnya itu

diiringi para malaikat hingga langit ketujuh, bahkan

sampai menerobos memasuki hijab-hijab dan sampailah kehadirat Allah. Para malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semua

menyaksikan bahwa amal ini adalah amal yang

shalih dan ikhlas karena Allah SWT. Namun Allah berfirman, ” Kalian adalah hafazhah,

pencatat amal-amal hamba-Ku. Sedangkan Akulah

yang mengintip hatinya. Amal ini tidak karena-Ku.

yang dimaksud oleh si pemilik amal ini bukanlah

Aku. Amal ini tidak diikhlaskan demi Aku. Aku lebih

mengetahui dari kalian apa yang dimaksud olehnya dengan amalan itu. Aku laknat dia, karena menipu

orang lain, dan juga menipu kalian (para malaikat

hafazhah). tapi Aku tak’kan tertipu olehnya. Aku ini

yang paling tahu akan hal-hal yang ghaib. Akulah

yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar

kepada-Ku setiap apapun yang samar. tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apapun yang

tersembunyi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah

terjadi sama dengan pengetahuan-Ku akan apa

yang akan terjadi. Pengetahuan-Ku atas apa yang

telah lewat sama dengan pengetahuan-Ku atas apa

yagn akan datang. Pengetahuan-Ku kepada orang- orang terdahu-Ku sebagaimana pengetahuan-Ku

kepada orang-orang yang kemudian. Aku lebih tahu

atas apapun yang tersamar daripada rahasia.

Bagaimana bisa amal hamba-Ku menipu-Ku. Dia

bisa menipu makhluk-makhluk yang tidak tahu,

sedangkan Aku ini Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Laknat-Ku tetap kepadanya." Tujuh malaikat hafazhah yang ada pada saat itu

dan 3000 malaikat lain yang mengiringinya

menimpali, “Wahai Tuhan kami, dengan demikian

tetaplah laknat-Mu dan laknat kami kepadanya.”

Maka, semua yang ada di langit pun mengatakan,

“Tetapkanlah laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat kepadanya.” TAHANLAH MULUTMU Mu’adz pun kemudian menangis terisak-isak dan

berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana bisa aku

selamat dari apa yang baru engkau ceritakan itu.?” Rasulullah SAW menjawab, ” Wahai Mu’adz,

ikutilah nabimu dalam hal keyakinan.!” Mu’adz berkata lagi, ‘Wahai Tuan, engkau adalah

Rasulullah. sedangkan aku ini hanyalah si Mu’adz

bin Jabal, bagaimana aku dapat selamat dan

terlepas dari bahaya tersebut?” Rasulullah SAW bersabda, “seandainya dalam

amalmu ada kelengahan, tahanlah mulutmu, jangan

sampai menjelek-jelekkan orang lain, dan juga

saudara-saudaramu sesama ulama. Apabila engkau

hendak menjelek-jelekkan orang lain, ingatlah pada

dirimu sendiri. Sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh dengan aib. Jangan membersihkan dirimu

dengan menjelek-jelekkan orang lain. Jangan

mengangkat dirimu sendiri engan menekan orang

lain. Jangan Riya dengan amalmu agar diketahui

orang lain. Janganlah termasuk golongan orang

yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan

seseorang padahal disebelahmu ada orang lain yang

tidak diajak berbisik. Jangan takabur kepada orang

lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia dan

akhirat. Jangan berkata kasar dalam suatu majelis

dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlaqmu itu. Jangan mengungkit-ungkit

apabila berbuat kebaikan. Jangan merobek-robek

(pribadi) orang lain denga mulutmu, kelak kamu

akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka

jahannam, sebagaimana firman Allah,

“Wannaasyithaati nasythaa.” (Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia, yang

mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya.) Aku (Mu’adz) berkata : “Ya Rasulullah, siapa yang

akan kuat menanggung penderitaan semacam ini ?” Jawab Rasulullah SAW, Wahai Mu’adz, yang

kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang

dimudahkan oleh Allah SWT. Cukup untuk

mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang

lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu

sendiri, dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang engkau benci bila sesuatu itu

terjadi kepadamu. Apabila seperti itu, engkau akan

selamat, terhindar dari penderitaan itu.” Khalid bin Ma’dan (yang meriwayatkan hadits itu

dari Mu’adz RA) mengatakan, “Mu’adz sering

membaca hadits ini sebagaimana seringnya ia

membaca Al-Qur’an, mempelajari hadits ini

sebagaimana ia mempelajari Al-Qur’an dalam

majelisnya. Subhanallah.....

Sumber : http://islamdongeng.blogspot.com

Di tulis oleh : Wahyu Mysterio


*****

Terima kasih telah membaca Kisah 7 Malaikat Penjaga Langit, Semoga bermanfaat.
Bila tulisan ini berharga buat anda, silahkan bagikan ke teman anda. Bagikan:
F T G Share via mail
0 Rate upStar
Dapatkan postingan terbaru dan ikuti:
RSS Subscribe
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk artikel "Kisah 7 Malaikat Penjaga Langit"






Refresh Translate Ke Judul Ke Artikel Lain >