
Di tulis pada: 30 Jan 2016 - 04:01:54

Oleh :
Elang

Kategori: Islami
Ada hal yang sering dilupakan oleh kebanyakan
orang tentang tempat mulya Sidratul
Muntaha dan Mustawa, tempat yang Allah
tidak memperkenankan siapapun menginjakkan
kakinya di sana kecuali Rosulullah SAW. Bahkan
Malaikat Jibril paling mulianya malaikat pun tidak berani dan tidak bisa sampai kepada
tempat tersebut.
Hal lain lagi adalah naik turunnya Nabi
Muhamad SAW untuk mengambil pendapat
dari Nabi Musa A.S, berikut perbincangan
Rosulullah SAW dengan Allah SWT di tempat tersebut. Kejadian dahsyat dan luar biasa ini
sungguh mengagumkan hati ahli iman. Ini adalah
memang urusan hati dan tidak akan bisa faham
kejadian ini kecuali ahli iman.
Hal yang perlu dicermati di balik kisah luar
biasa ini adalah hanyutnya sebagian orang dalam irama kekaguman terhadap kisah Sidratul
Muntaha dan mustawa berikut dialog
Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Hingga
sampailah pada titik keyakinan bahwa
Rasulullah SAW berdialog dengan Allah SWT di
tempat itu karena menganggap di situlah tempat Allah SWT. Dan mungkin juga
terbayang sebuah suasana hening saling duduk
berhadapan dan berdampingan antara Allah
SWT dengan Rasulullah SAW. Inilah kesesatan
aqidah bahkan itulah kekafiran yang
tersembunyi di balik sebuah keyakinan. Disinilah orang sering salah alamat, seolah
telah meyakini Tuhan Allah SWT yang “laisa
kamtslihi syai’un” tidak diserupai oleh apa dan
siapapun, akan tetapi telah tersesat dan
tanpa terasa menyerupakan Allah dengan
makhlukNya. Meyakini Allah SWT bertempat, berhadap-hadapan dengan Rasulullah SAW
adalah salah jalan dalam beriman kepada Allah
SWT.
Begitu indah dan istimewanya perjalanan Isro
mi'roj, mempesonakan hati yamg mencari-cari
keteduhan di balik penghambaan kepada Allah SWT. Menghadirkan renungan dalam makna
sambung komunikasi dengan Allah Yang Maha
Agung yang terurai dalam kekhusu’an dalam
sholat lima waktu.
Akan tetapi sholat yang semestinya
penghambaan kepada Allah bisa berubah menjadi penyembahan kepada berhala yang di
hayalkan jika ternyata seorang yang lagi Sholat
telah meyakini tuhanya duduk dan
membutuhkan tempat, buah kesalah pahaman
akan isro’ mi'rojnya Rosulullah SAW.
Sungguh benar Rosulullah SAW telah diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsa lalu menembus langit
ke tujuh hingga Al-Baitil Makmur, Sidratul
Muntaha dan Mustawa dengan ruh dan
jasadnya. Lalu berdialog dengan Allah SWT.
Itulah tempat kemuliaan yang hanya disediakan untuk memuliakan Rasulullah SAW saja.
Yang perlu diyakini bahwa tempat itu bukanlah
tempat Allah SWT. Sebab Allah SWT yang
menciptakan tempat. Sebelum Allah SWT
menciptakan tempat Allah SWT tidak butuh
kepada tempat dan setelah Allah SWT menciptakan tempat Allah SWT tetap tidak
butuh kepada tempat. Tidak bisa dan tidak
boleh menyebut Allah SWT bertempat.
Bagi Allah SWT sangat mudah mengajak dialog
khusus dengan Rosulullah SAW dimana saja.
Bisa di Indonesia, Malaysia dan Amerika atau di bukit Tursina seperti yang pernah terjadi
pada Nabi Musa A.S. Akan tetapi untuk
seorang Nabi yang paling Allah SWT cintai dan
muliakan, Allah SWT menginginkan dialog dengan
kecintaanNya itu di tempat yang sangat
istimewa yang tidak penah dijamah oleh apa dan siapapun.
Tempat tersebut adalah tempat kemuliaan
Rosulullah SAW dan bukan tempatnya Allah
SWT. Maha suci Allah SWT yang tidak
diserupai oleh segala ciptaan Nya.